Senin, 30 Desember 2013

Karya yang Mendunia


Judul buku  : Cinta yang Membawaku Pulang
Penulis       : Agung F Aziz
ISBN          : 978-602-8277-62-4
Penerbit     : Indiva Media Kreasi
Tebal          : 295 halaman/19cm
Harga         : Rp 42000

               Sebuah bencana akibat perang saudara, sering terasa lebih berdarah. Sebagaimana konflik Poso, perang Sampit, maupun konflik Aceh. Jika dalam perang kemerdekaan, musuh adalah satu dan pasti. Tetapi dalam perang saudara, bisa jadi ayah, anak, ataupun menantu menjadi lawan.

         Cinta yang Membawaku Pulang adalah novel yang mengangkat terberainya sebuah keluarga akibat perang saudara. Ketika Afganistan menang melawan Rusia, perebutan kekuasaan antar kelompok pun terjadi. Perang saudara, tak terelakkan. Meski perang telah berakhir, namun sisa-sisa dendamnya, masih memiliki kekuatan memporak-porandakan masa depan. Impian-impian yang dibangun untuk menyatukan tangan dan bahu membahu dalam sebuah keluarga. Begitu saja dihempaskan menjadi serpihan-serpihan hampa. 

           Novel yang sebelum terbit berjudul Di Dalam Kiswah Kakbah ini mengisahkan ketabahan seorang Shabana Ahmas. Shabana adalah puteri dari Massaoud Kamal. Seorang tentara Mujahidin saat Afganistan melawan Uni Sofyet. Tetapi ketika Afganistan menang dan pecah perang saudara, ayah Shabana berpindah dalam barisan tentara Taliban.

Ketika Amerika menduduki Afganistan dan Taliban jatuh, ayah Shabana menyeberang ke Pakistan bersama Maryam Shekiba (adik Shabana). Shabana ditinggal bersama ibunya, dan dijanjikan akan dijemput kembali. Namun sang ibu sakit keras di pengungsian dan meninggal. 

Dalam pengungsian, Shabana menikah dengan Faisullah dan mempunyai anak bernama Sakhi. Saat Sakhi berusia lima bulan, mereka terpisah. Faisullah dan Sakhi dengan bantuan PBB berhasil mencapai Pakistan. Sedang Shabana tertinggal di Afganistan bersama tetangganya, Farrukhaz dan Yassir.

Waktu berlalu, 20 tahun semenjak Shabana berpisah dari ayahnya. Farrukhaz menunaikan ibadah haji dan bertemu dengan ayah dan bibi Shabana. Farrukhaz pun menolong Shabana menjualkan tanah warisan ayahnya. Dengan hasil uang dari penjualannya, Shabana berangkat menuju Makkah. Sejuta impian untuk bergabung kembali dengan keluarganya menari-nari.

Novel ini mulai berderap atas kerinduan Shabana pada sebuah keluarga yang utuh. Ditemani keluarga bibinya, Shabana mencari jejak sang ayah. Kejutan demi kejutan keluar masuk, antara bahagia dan duka. Harapan yang meloncat-loncat, tiba-tiba saja menjadi sebuah teka-teki dalam berbagai sikap yang orang dijumpainya. 

Dalam novel ini Agung F Aziz memberikan contoh, bagaimana seorang wanita seharusnya bersikap dalam menghadapi sebuah masalah. Keringan tanganan Shabana, mempertemukannya dengan anak laki-lakinya. Demikian juga saat melemparkan jumrah ula Shabana melihat Faisullah, suaminya. Satu demi satu pintu terbuka, dan impiannya benar-benar terwujud. Berkumpul kembali dengan saudara-saudaranya. Bahkan adik satu-satunya yang dulu ikut mengungsi juga ditemukannya.

Namun siapa menyangka, ketika cintanya kepada sang suami kembali bertunas, takdir membawanya menghadiri pernikahan sang suami. Demikian juga pencarian demi pencarian, membawa Shabana betualang dengan hukum Arab. Bagaimana sebuah hukum gantung berjalan, bagaimana diyat harus dilakukan, termasuk penggalangan dana. Berbagai pergulatan, dan lika-liku kehidupan, menjadikan buku ini magnet yang susah dilepaskan dari tangan. Terutama ketika masuk pada babak terakhir, saat semua bergerak dengan cepat.

Ketika semua pencariannya berakhir. Sabana kembali ke titik nadir, dimana setiap manusia datang tanpa baju, dan berpulang tanpa teman, kecuali iman. Sebuah titik yang mendatangkan cinta diatas segala cinta. Diksi indah dituliskan oleh Agung F Aziz, pada halaman 286, “Perpisahanku dengan Baba dan Sakhi membuatku kecewa. Juga perpisahanku dengan orang yang aku cintai, Faisullah. Tapi, berpisah dengan Tanah Suci ini membuat hatiku lenyap.” 

Secara keseluruhan, tulisan Agung F Aziz mengalir dan enak dibaca. Hanya saja penggunaan banyak nama asing, sedikit mengurangi kenyamanan. Terutama penggunaan nama perempuan yang terdengar seperti laki-laki bagi telinga Indonesia, seperti Ahmas, Farrukhzad, Saghar Hamraaz. 

Pada beberapa bagian, Agung sukses menambah pengetahuan pembaca dengan penjelasan singkat atas sebuah panggilan. Seperti pada halaman 35, tentang Haris, Orang Arab memanggil tukang sapu dengan sebutan itu. Atau pada halaman 34, Abu Nahal adalah Zaher Hashemi. Orang Arab biasa memanggil dengan menisbatkan anak tertuanya. Abu Nahal berarti ayahnya Gulnaz Nahal. Demikian juga dengan panggilan Ghatamah Khoor, pada halaman 193 tidak ada yang memanggil dengan sebutan itu (Ghatamah Khoor) melainkan seorang adik kepada kakaknya.

Namun sayang, pada beberapa bagian yang lain, Agung abai memberikan penjelasan atas panggilan-panggilan ringan, seperti, Bachem, Khanum, Kaka, Khali, Plaar, Amma jee, Ammi dll. Padahal panggilan-panggilan tersebut sangat berpengaruh. Mengingat banyaknya jenis yang disuguhkan. 

Agung berhasil membangun karakter Shabana sebagai sebagai perempuan yang kuat dan tabah. Demikian juga dengan karakter Harris Abdurrahman, dan Haris Pakistan. Tetapi, untuk karakter pendukung yang lain, terasa sedikit flat.

Meskipun Agung F Azis adalah warga negara Indonesia asli yang tinggal di Salatiga, kedekatan dengan pembaca Indonesia masih terasa sekatnya. Ketiadaan tokoh Indonesia dalam novel ini, merentangkan jarak, membuat pembaca seolah mendapat suguhan novel terjemahan. Satu-satunya nama Indonesia, hanya ditempatkan sebagai obyek, itu pun dalam sebuah wacana sebagai korban (Wardah) halaman 73. Tentu akan lain jika salah satu pemeran pembantu (misalnya Haris Abdurrahman) dimunculkan sebagai warga negara Indonesia. Akan muncul nafas yang menyatukan antara novel dan pembaca.

Karya Agung F Aziz, mempunyai potensi mendunia, tema yang diusung adalah fakta yang menjadi keprihatinan penduduk dunia. Kekuatan tema Kite Runner dimiliki Novel ini. Sayang, penggarapan variant pelengkap kurang dimaksimalkan. Jika Kite Runner memiliki Pesta Layang-layang, karya Agung F Aziz juga memiliki Bukhasi (memperebutkan daging hewan buruan dengan mengendarai kuda). Bedanya Agung hanya menempatkan Bukhasi sebagai tontonan, tokoh hanya menonton, tidak terlibat dengan pesta itu sendiri. Tentu lebih hidup jika Bukhasi bersenyawa dalam cerita. Sehingga detak Shabana sebagai warga negara Afganistan akan terasa lebih menggigit.

Ukuran, dan font buku terasa nyaman, hanya saja cover buku terlalu wanita untuk sebuah cerita perang dan drama keluarga yang tragis. Aroma Timur Tengahnya kurang tercium. Pilihan huruf huruf pada judul juga kurang tertangkap mata. Namun secara keseluruhan buku ini berkelas. 

Pada akhirnya Novel Cinta yang Membawaku pulang, berhasil mengingatkan pembaca atas luka-luka akibat perang. Dan sebesar apapun fungsi perang, selalu ada pihak yang terluka.

4 komentar:

  1. Lebih suka judul yang baru ketimbang judul sebelumnya. Tapi katanya novel ini lebih banyak setting Mekkah nya ya mbak ketimbang setting Afghanistannya?

    BalasHapus
  2. Iya, betul. Judul yang baru mencakup seluruh isi. Kalau judul lama di pucuknya aja. Sama-sama bagus sih. Sensenya aja yang mungkin rada beda. Judul baru lebih nampak "kerinduanya" (centra ceritanya).

    BalasHapus
  3. Saya sih pinginnya ada judul lain yg lebih singkat tapi tetep nyambung sama isi novelnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perasaan nyambung Say, Shabana akhirnya lebih memilih yang memberikan "cinta" daripada yang sedarah tetapi sudah mempunyai kehidupan sendiri. Kalau aku nagkepnya sih keluarga nya kurang welcome saat suami Shabana ada (kecuali bibinya). Jadi Saat ke Mekah bisa disebut pulang. Saat ke Afgan juga pulang... tapi emang penangkapan bisa macem-macem ya.. Makasih Mba Linda komentnya

      Hapus